Desa Jatiluwih di kabupaten Tabanan, Bali mengalami peningkatan pengunjung wisatawan nusantara maupun mancanegara sejak UNESCO mengukuhkan menjadi warisan budaya dunia (WBD) pada empat tahun silam atau tepatnya tanggal 20 Juni 2012, kini Jatiluwih menjadi salah satu ikon pariwisata di Kabupaten Tabanan, Bali. Dan mendapat kepercayaan menjadi salah satu peserta “International Symposium on Austronesia”.
Ni Putu Eka Wiryastuti, selaku bupati di Tabanan mengapresiasi hal tersebut. Harapannya dengan Jatiluwih dipercaya dalam kegiatan tingkat international, hal tersebut bisa menjadi promosi bagi Bali, khususnya kabupaten Tabanan. Demikian hal tersebut diungkapkan saat menerima audensi Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Jakarta, Made Geria. Pada tanggal 18-23 Juli 2016 kegiatan “International Symposium on Austronesia”. Kegiatan tersebut merupakan kerjasama Direktorat Pelesatarian Cagar Budaya dan Permuseuman. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dan Pusat Penelitian Arkeleogi Nasional.
Maksud diadakannya kegiatan tersebut dinilai penting, guna menangkap asal usul nenek moyang manusia dalam cakupan yang lurus, sehingga secara multinasional, dapat memberikan pemahaman mengenai dinamika serta hubungan sejarah dan budaya manusia. Menurut Made Geria, ada 200 peserta berasal dari 40 negara di dunia yang turut serta mengikuti ajang ini. Harapannya pemerintah kabupaten Tabanan dapat mendukung dengan cara mempersiapkan Jatiluwih dengan berbagai budaya yang ada di Tabanan.
Bupati Eka sangat menyambut baik kegiatan tersebut dengan harapan acara pada bulan Juli bisa jadi promosi untuk Tabanan. Ia pun akan menjelaskan akan mempersiapkan seluruh potensi budaya yang dimiliki oleh kabupaten Tabanan.